Rabu, 21 November 2007

Cinta Pertamaku

Pagi itu merupakan minggu pagi yang cerah, angin berhembus sepoi menerpa dedaunan dan burungpun berkicau dengan riang. Tapi tidak begitu halnya dengan sesosok gadis cantik yang nampak mematung dibawah sebatang pohon. Tampak sekali kalau dia sedang tidak senang. Bibirnya yang mungil dimanyunkan membentuk huruf O yang lucu, pipinya jadi bulat dan memerah seperti buah apel yang sudah ranum. Sudah hampir satu jam gadis itu duduk menyendiri dengan memeluk kedua lututnya di dada dan menyandarkan dagu pada lutut.

“Lia sedang apa kamu di situ?”, nampak seorang wanita paruh baya yang datang menghampiri gadis itu.

“Lia bosen budhe, disini gak ada tv, gak ada CD, sampe radionya juga cuma ada lagu jawa, gimana Lia bisa bertahan di sini selama liburan ini. Lia boleh pulang ke yogya ya Budhe, please!”, jawabnya dengan rengekan manja

“Sayang…., bukannya budhe mau menahan kamu di sini, tapi budhe sudah terlanjur janji sama papa dan mama kamu untuk menjaga kamu di sini selama liburan dan selama papa mama kamu keluar negeri. Jadi Lia liburannya di sini saja ya!”

Lia tak menjawab hanya bibirnya yang mungil saja yang tambah dimanyunkan.

“Jangan gitu donk sayang, gini nanti malam reksa, putra tante rin, pulang. budhe kenalin kamu sama dia ya.. biar ada yang nemenin main dan keliling desa”

“Ogah ah budhe cowok kampung kan norak”

“Eh… jangan gitu donk, biar anak kampung Reksa kuliah di Jakarta, di UI lagi. Tapi kalau kamu gak mau ya sudah budhe gak maksa kok.”

Sudah satu minggu Lia tinggal di kampung bersama budhe. Selama satu minggu itu dia hampir tidak pernah tertawa ceria. Kerjanya hanya duduk melamun, bernyanyi- nyanyi kecil, dan kadang pergi ke sawah melihat petani yang sedang tanam.

***

Tidak seperti pagi biasanya, pagi ini Lia bangun dengan riang dan dengan senyum terpampang di bibir, dia jogging keliling desa. Budhe yang melihatnya hanya bisa terbengong, tanpa tau harus berkata apa.

Saat sarapan pagi budhe iseng menanyakan perubahan cuaca yang terjadi pada keponakannya itu.

“ Gak biasanya kamu ceria begini Lia, kamu baik-baik sajakan?”

“Ah budhe gimana sih lia cemberut katanya nanti cepet tua, kalau Lia ceria dikira ada apa-apa, terus Lia musti gimana donk?”jawab lia dengan suara manjanya

“ya bagus juga sih kalau kamu ceria begitu budhe juga seneng, tapi kamu yakin gak ada apa-apa?

“hehe… gini lho budhe kemarin Lia liat cowok keren banget lagi lari pagi, sepertinya bukan orang kampung sini deh. Terus hari ini Lia mau ikutan lari biar bisa ketemu sama cowok itu, tapi Lia gak berani nyapa” jelasnya dengan wajah yang memerah karena malu.

“Cowok cakep?, apa bener bukan anak sini? Tapi… apa anaknya tinggi sekitar 170cm, tidak terlalu kurus juga tidak gemuk, rambutnya cepak, kulit putih, hidung mancung, benar cirinya gitu?”

“Kok Budhe tau sih?”

“Kalau cowok itu sih budhe tiap hari ketemu, malah sering ngobrol. Dia anak desa ini kok, putranya tante Rin, tapi bukannya kamu bilang anak desa itu norak?”

“Idih budhe itu kan kemarin sebelum Lia liat cowok itu. Budhe kenalin Lia sama dia ya… budhe kan udah janji mau kenalin Lia sama putranya tante Rin. Ya budhe ya..!”

“Ya sudah besok kamu ikut budhe ke rumah tante Rin”

Keesokan harinya Lia berdandan rapih demi bertemu cowok incarannya. Sampai di rumah tante Rin Lia celingukan mencari cowok yang dilihatnya kemarin. Tiba-tiba budhe melambai dan berteriak memanggil seseorang yang sudah tak asing di mata Lia.

“Reksa bisa kesini sebentar, kenalin nih keponakan budhe dari Yogya”

“Lia”, sahut Lia sambil mengulurkan tangannya

“Reksa” sambut Reksa

“Reksa budhe bisa minta tolong selama kamu liburan di sini, bisa kamu temani Lia berkeliling desa. Kasihan dia sudah seminggu di sini hanya terkurung dirumah”

“Tentu budhe, Reksa juga senang ada teman, tapi tergantung juga pada Lia apa mau ditemani sama cowok kampung yang norak?”, jawab Reksa sambil melirik dan tersenyum manis ke arah Lia

“Budhe apa-apaan sih pake cerita segala”

budhe hanya tertawa yang disusul oleh Reksa dan akhirnya mereka bertigapun tertawa.

***

Pagi yang cerah burung berkicau riang dan angin berhembus sepoi-sepoi menerpa dedaunan. Lia tersenyum ceria didepan cermin, mematut-matutkan diri didepan cermin. Dia nampak cantik dalam t-shirt pink pendek dan celana jins biru muda. Rambutnya yang sebahu diurai lepas dengan hiasan pita pada sisi kiri dan kanan. Setelah merasa penampilannya sudah sempurna, Lia pergi ke teras rumah dan dengan santai dia duduk sambil membaca majalah remaja. Hari ini Reksa berjanji akan mengantarnya melihat danau di desa sebelah. Tak berapa lama nampak Reksa datang dengan mengendarai sepeda

“Pagi Lia cerah amat kamu pagi ini, gimana sudah siap berangkat?”

“Gak salah tuh bawa sepeda?” tanya Lia dengan sedikit heran

“Ya benerlah masak kalo salah aku bawa ke sini sih. Kenapa, anak kota takut dibonceng sepeda ya?”

“eh…. Bukan begitu tapi apa kamu kuat boncengin aku?”

“Memangnya kamu seberat apa sampai aku gak bisa bonceng kamu” kata Reksa meyakinkan.

“Ya sudah kalau begitu, tapi kalau berat jangan ngeluh ya!”, ujarnya sambil tersenyum dan berjalan menghampiri Reksa.

“OK deh tuan puteri, sekarang pegangan yang erat kereta mau berangkat”

Hari itu adalah hari yang paling bahagia bagi Lia sejak dia liburan di desa budhe. Lia sangat senang bisa pergi berdua menikmati hangatnya sinar mentari pagi berdua dengan Reksa di danau tepi desa. Lia merasa, Reksa begitu perhatian padanya.

Hari berikutnya mereka berjalan berkeliling kebun teh. Pada jalanan yang naik turun dan berbukit tangan Reksa tak pernah terlepas dari tangan Lia. Dia terus menggandeng dan membimbing Lia agar tidak terpeleset dan terjatuh.

Hari-hari yang mereka lalui bersama, dan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Reksa padanya membuat Lia jatuh hati pada Reksa. Meski ingin mengungkapkan isi hatinya namun Lia ingin agar Reksalah yang mengatakannya terlebih dahulu karena dia yakin bahwa Reksa memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.

Waktu terus berlalu tanpa terasa liburan telah berakhir, dan Lia harus kembali ke Yogya. Malam hari menjelang keberangkatannya Lia merasa gelisah. Dia tidak ingin melupakan Reksa begitu saja setelah dia kembali ke Yogya, karena Reksa adalah cinta pertamanya. Setelah lelah berpikir akhirnya Lia memutuskan untuk mengungkapkan perasannya kepada Reksa esok pagi.

Pagi hari sebelum berangkat ke Yogya Lia meminta Reksa mengantarnya ke bukit kecil di sebelah perkebunan teh. ‘Kalau ingin mengungkapkan perasaan harus cari tempat yang indah dan romantis’ pikirnya. Dan bukit itu menjadi pilihan karena dari situ bisa melihat perkebunan teh yang hijau menghampar luas. Dan tempat itu merupakan tempat kesukaan mereka berdua.

Mereka memilih duduk pada padang rumput hijau sambil melihat pekerja perkebunan memetik daun teh. Dengan hati berdebar Lia memulai percakapan

“Reksa….. mm…”, Lia tidak bisa meneruskan katanya

“Iya ada apa? Kamu bilang ada yang serius mau kamu bicarakan sama aku di sini?” kata Reksa sambil tak hentinya memandangi wajah Lia

“Reksa terima kasih kamu sudah menemani aku selama aku liburan di sini. Aku jadi gak kesepian!”

“Kamu ajak aku ke sini Cuma untuk bilang terima kasih saja? Ya sudahlah kalau begitu, aku juga senang bisa menemani kamu kok, sekarang aku antar kamu pulang ya, biar kamu bisa istirahat sebelum berangkat ke Yogya” Reksa berdiri sambil mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Lia

“Duduklah dulu masih ada yang mau aku katakan” rengek Lia dengan suara manja dan dia menarik tangan Reksa agar kembali duduk di sampingnya.

“Iya-iya… sekarang katakan apa yang mau kamu katakan pada aku?”

“Mm… kamuu.. suka.. sama.. aku gak?” ujar Lia dengan terbata

“Kamu ini ada- ada saja, siapa sih yang bakal gak suka sama kamu? Kamu tuh cantik, manis, cerewet, manja lagi, tapi pintar. ya pasti aku sukalah”

“Bukan begitu”, potong Lia, “Maksudku sebenarnya aku suka…. Aku cinta sama kamu”

Reksa tersentak kaget dan bingung mendengar apa yang baru diucapkan Lia.

“Lia…. Aku tak tahu harus berkata apa, tapi terima kasih kamu sudah mencintai aku. Selama ini semua perhatian yang aku berikan pada kamu tulus aku berikan, bukan karena budhe memintaku. Perhatian dan waktu yang aku berikan sama kamu itu karena aku sayang sama kamu, sangat sayang. Tapi aku sayang kamu sebagai adikku. Aku minta maaf tidak bisa menerima cinta kamu tapi aku yakin di SMU nanti kamu pasti akan mendapat cowok yang lebih keren dan lebih memperhatikan kamu. Ya…?” Selama ini Reksa memang selalu menyayangi dan memperhatikan Lia lebih dari teman lain di desanya, tapi perhatian yang diberikannya semata hanya karena dia sudah menganggap Lia sebagai adiknya sendiri.

Mendengar jawaban yang diberikan Reksa Lia tidak bisa berkata-kata, hatinya terasa pedih, sakit. Meski begitu Lia tetap memaksakan diri tersenyum dan berdiri.

“Ayo.. kita pulang” katanya singkat sambil menahan air mata yang mau keluar.Dan mereka melangkah pulang beriringan.

Dalam kereta malam yang membawanya kembali ke Yogya Lia hanya bisa menangis, mengingat cinta pertamanya yang tak tersambut. Suara isak tangisnya lirih mengalun seiring laju kereta.


Malang, 3 Januari 2005

Lestari.


1 komentar:

Dagoel's mengatakan...

izin ngedot gan...